Jumat, 01 Oktober 2010

"HILANG"

“Cinta baru sempurna jika terasa menyayat, seperti segumpal tanah liat yang akan baru tampil indah setelah dipahat. Cinta menjadi abadi jika tak terjangkau. Ibarat bumi selalu mengitari matahari. Karena tak mampu meraihnya, selamanya menjadi bayangan yang tak terengkuh….Ditinggalkan jauh lebih menyakitkan daripada diputuskan. Namun lebih menyakitkan lagi ketika kita tidak mengerti bahwa terkadang Tuhan izinkan kita kehilangan seseorang untuk kebaikan kita sendiri….. Kehilangan akan membuat kita merasa rapuh tapi disisi lain kehilangan bisa membuat kita tegar.

Tetapi sesuatu Yang hilang belum tentu meninggalkan kekosongan, karena jejak-jejak yang ditinggalkannya tak pernah benar-benar hilang.

Maka, mari belajar untuk mencintai kehilangan itu, karena ia adalah bagian alamiah dari hidup. Kehilangan membuat banyak pelajaran dan pengalaman baru buat kita kita dapat menerima dengan baik proses itu, menerima diri kita sendiri, kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup. Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan ketika kita kehilanga, Kemenangan hidup bukan berhasil mendapat banyak, tetapi ada pada kemampuan menikmati apa yang didapat tanpa menguasai. Pelajaran dari beberapa kehilangan, bahwa dalam setiap kehilangan ada pembelajaran yang membuat jiwa makin dewasa. Atau mungkin menjadi sebuah proses lepasnya sebuah ego dalam diri. Di saat kehilangan, kita jadi meringkuk seperti bayi yang tak punya kuasa.

Menyadari bahwa sekuat apapun jiwa dan diri, setiap hidup tak pernah lepas dari kehilangan. Bahwa cerita di dunia ini bukan hanya celoteh kita, tapi ada celoteh lain yang harus didengarkan, dipenuhi dan dijalankan. Tak lain demi harmonisasi.“

Kamis, 30 September 2010

"JUJUR"

Sebagai Muslim kita harus yakin bahwa Allah telah menyediakan rezeki bagi setiap makhluk-Nya, bahkan binantang melata sekali pun telah dijamin rezekinya oleh Allah (QS Hud[11]:6). Lalu, mengapa kita takut tidak kebagian rezeki? Mengapa kita menggadaikan kejujuran demi mengejar keuntungan melimpah? Mengapa kita menempuh jalan haram dalam menjemput rezeki? Mengapa kita menghalalkan segala cara dalam berbisnis?
Kita harus menyadari bahwa kita bukan diperintahkan untuk mencari rezeki, karena kalau mencari, belum tentu ketemu. Kita hanya diperintahkan untuk menjemput rezeki yang telah disediakan Allah. Jika ayam dan burung saja yang tidak memiliki akal bisa menjemput rezekinya, semestinya kita yang dikaruniai akal mampu menjemput rezeki kita dengan baik, dengan menjunjung tinggi nilai kejujuran dan kebenaran.

"Jujur adalah salah satu kunci sukses. Bukankah seorang pembeli hanya akan membeli kepada penjual yang jujur? Seorang atasan pasti menyukai karyawan yang jujur, Pengusaha menyukai partner bisnis yang jujur, bahkan perampok sekali pun menginginkan rekan yang jujur?!"

Coba saja Anda bayangkan sekawanan perampok yang telah “sukses” menjarah harta korbannya, kemudian membagi-bagi hasil rampokannya. Kalau dalam proses pembagian hasil rampokan itu ada yang tidak jujur, mereka bisa saling membunuh. Begitu istimewanya orang jujur sampai orang jahat sekali pun menginginkan partner seperti mereka, lalu mengapa kita tidak menjadi orang yang jujur? Banyak peluang yang menanti bagi orang-orang yang jujur. Jujur adalah mata uang yang berlaku di mana pun dan sampai kapan pun….